Malang Masih Butuh 100 ApotekMinggu, 30 Agustus 2015 20:51

SURYAMALANG.COM//Sylvianita Widyawati
Bambang Aries Purwanto, Ketua Pengurus Cabang IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) Kabupaten Malang
SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Kebutuhan apotek masih banyak diperlukan, terutama untuk kawasan
Malang selatan. Sebab saat ini baru ada 130-an apotek yang kebanyakan ada di kawasan kecamatan perkotaan.
"Saya kira untuk
Malang selatan masih perlu sekitar 100-an apotek. Soal SDM-nya, juga cukup," ungkap Bambang Aries Purwanto, Ketua Pengurus Cabang IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) Kabupaten
Malangusai kegiatan di Pendopo Agung Kabupaten
Malang kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (30/8/2015).
Katanya, sejumlah perguruan tinggi di
Malang sudah membuka jurusan apoteker. Sehingga hasil SDM-nya bisa diharapkan.
Menurutnya, pendirian apotek harus ada apotekernya. Itu sebagai syarat keluarnya izin.
"Adanya apoteker di apotek sebagai penanggungjawab obatnya," ungkap Bambang, pemilik apotek di Singosari itu.
Sehingga 130 apotek itu sudah ada 130 apotekernya. Sisanya, apoteker bekerja di RS, industri obat dan jamu. Total apoteker di Kabupaten
Malang ada 150 orang.
"Seorang apoteker tidak boleh merangkap bekerja di apotek lain," ujar karyawan Dinkes Kota
Malang ini.
Dalam pertemuan dengan para apoteker Kabupaten
Malang itu, mengangkat isu mengenai apoteker bisa pro aktif ke masyarakat. Alasannya selama ini, masyarakat kurang mengenal profesi apoteker.
"Masyarakat jika ada yang ingin menanyakan soal obat-obatnya bisa konsultasi ke apotekernya," kata dia.
Dengan begitu, profesi mereka lebih dikenali masyarakat.
"Apoteker harus berani tampil. Apalagi dengan pasien. Sebab bekal pendidikan mereka kan sudah ada. Tinggal keberanian ngomong ke pasien saja," ungkap Bambang.
Bagi masyarakat sendiri juga jangan segan jika ke apotek untuk mengenal apotekernya dan berani menanyakan soal obat-obat.
"Agar tahu, jemput bola. Bahwa saya apoteker," tandasnya.
Selain itu, perkembangan obat-obatan juga pesat.
"Masyarakat dapat informasi yang pas saat beli obat jika mengenal apotekernya," katanya.
Jangan sampai mau beli obat pusing karena informasi yang salah informasi ternyata obat darah tinggi. Hal semacam ini perlu dijembatani dengan berani bertanya dan apoteker membuka diri.
Dijelaskan Bambang, pertemuan rutin antar apoteker juga bisa saling memutakhirkan mengenai obat-obatan, misalkan dilaksanakan lewat seminar. Sehingga apoteker akan selalu dapat info update dalam pekerjaannya.